• gambar
  • gambar

Selamat Datang di Website SMP NEGERI 2 WARU SIDOARJO. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 2 WARU SIDOARJO

NPSN : 20501738

Jl.Lawu Komplek Kepuh Permai Kec.Waru Kab.Sidoarjo 61256


[email protected]

TLP : 031 8661775


          

Prestasi Siswa


Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB)

Juara 1 Bina LKBB Tingkat SMP/MTs Se-Jatim Tahun 2022



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Statistik


Total Hits : 341365
Pengunjung : 154491
Hari ini : 123
Hits hari ini : 310
Member Online : 0
IP : 216.73.216.109
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

BERBOHONG YANG DIPERBOLEHKAN




KARYA MUHAMMAD AZIZ ARIFIANTO (VII-I)

JUARA KETIGA LOMBA ARTIKEL ISLAM

 

Kebohongan dalam ajaran agama apapun adalah perbuatan dosa dan dilarang bagi setiap pemeluknya. Ajaran Islam juga melarang tindakan ini dan bahkan menyebut kebohongan sebagai salah satu dosa yang akan mengantar kepada dosa-dosa besar.

Namun ternyata ada kondisi-kondisi yang dibolehkan berbohong dalam ajaran Islam. Sementara kebohongan di luar dari kondisi pengecualian tersebut tetap dilarang Allah SWT dan rasul-Nya.

Dilansir dari El Balad, perilaku gemar berbohong disinggung keburukannya dalam sebuah sabda Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga. Seorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada api neraka seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta, ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Tapi kemudian Nabi Muhammad SAW menjelaskan adanya kondisi yang menjadi pengecualian dan membuat kebohongan dibolehkan. Beberapa kondisi itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

Kedustaan itu tidak halal kecuali pada tiga hal, “Seorang suami yang berbicara terhadap istrinya agar diridha padanya, kedustaan pada peperangan, dan kedustaan yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan.”

Selain kondisi itu, seorang muslim tetap diharuskan untuk berkata jujur. Hal ini sesuai dengan sifat Nabi Muhammad SAW yang terkenal oleh masyarakat saat itu sebagai Al Amin atau orang yang jujur dan dapat dipercaya.(mar/ipa)




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas